Kesasar di Stasiun Ciledug

23 Mei

CILEDUG : PENGALAMAN BERKERETA API

Perjalanan dari Jogja ke Cirebon tidak pernah terbayangkan sedemikian berarti jika nggak mengalami kejadian seperti malam itu.
Saat itu dua hari setelah libur Nyepi.

World / Indonesia / Jawa Barat / Ciledug (6°51’36″S   108°43’11″E)
http://wikimapia.org/7202026//stasiun_ciledug_cirebon

Citizen Automatic 21 jewels-ku menunjukkan pukul 23.49, ketika akhirnya sampai juga di Cirebon. Sebelah kanan ada kereta berhenti, sebelah kiri terlihat beberapa lampu menyala.
Aku bergegas bangkit dari tempat dudukku sambil menyambar Bodypack biru. Tas ranselku ini penuh berisi pakaian (yang habis dicuci, maklum pulkam kan bawa pakaian kotor seabrek-abrek, mumpung) dan sekantong bakpia dari Pathuk Jogja.
Jalanan menuju pintu keluar ramai sekali. Aku kesulitan keluar, padahal kereta sudah hampir jalan.
Sampai di ujung pintu, kereta sudah merambat pelan. Hup, aku melompat. Akhirnya bisa juga keluar dari kereta penuh sesak ini.
Peluh deras membasahi pakaianku. Perasaan ini sudah aneh aja, kok rasanya ada yg beda ya.
Bener juga, ini bukan stasiun Cirebon tapi stasiun CILEDUG. Stasiun kecil di daerah kabupaten Kuningan…

Terhenti di Ciledug

Aku hanya bisa makan ketoprak plus teh manis anget, untuk mengendalikan mulutku yg tak henti-henti ber-jangkrik2 ria bersumpah serapah.
Benar-benar tidak habis pikir, kok bisa ya salah turun.
Orang disebelahku tak kuasa menahan ketawa begitu aku menyelesaikan ceritaku. Tenang saja katanya, besok pagi ada bis ke Cirebon kok.
Hmm..kereta Bengawan dari Solo lewat 3 jam lagi. Siap-siap nginep di sini nih, pikirku dalam hati.
Eh ada kereta berhenti (belakangan aku baru tau itu kereta Sawunggalih). Langsung aku bayar makananku, dan tanpa menunggu uang kembalian aku lari mengejar tanpa sempat berucap terimakasih an pamitan, pokoknya lansung lari.
Waduh gak ada pintu terbuka. Eh, disebelah situ ada kaca bolong. Beberapa pengasong berusaha masuk lewat situ. Aku tak mau kalah dan rebutan masuk sama penjual asongan.
Sialnya kereta mulai jalan, padahal baru satu kaki yg bisa menapak di kereta. Daripada bahaya, terpaksa deh melompat turun. Anak kecil penjual asongan menertawaiku.

Gontai aku kembali lagi, kebetulan ada bangku kosong di sebelah sana. Kananku seorang pedagang baru ngrokok, sebelah kiriku orang gila yang bengong dengan cueknya.
Di depan ada beberapa asongan sedang jualan, anak kecil yg tadi jalan-jalan kesana kemari, sedangkan sekelompok ABG sedang bernyanyi2.
Pak petugas KA yg tadi sempat aku tanyain lewat, diam saja. Di dinding stasiun ada sepeda motor dan sepeda parkir. Suara siaran tinju dari televisi di dalam kantor dengan cueknya meraung-raung.
Aku duduk terdiam kelelahan.

Akhirnya aku coba merenung, tadi ngapain saja selama perjalanan. Ada dosa apa ya kok bisa jadi begini.
Sebelum berangkat aku sempat berdoa, doa standar aja sebelum perjalanan, tp lumayan serius sih.
Eh, ternyata memang dikasih enak, dapat tempat duduk (biasanya kalau naik kereta ekonomi ini susah untuk dapat tempat duduk, karena sudah keduluan penumpang yang antri sejak siang di stasiun Lempuyangan).
Dan setelah itu yang terjadi adalah, aku cuek-cuek saja dengan keadaan sekitar. Tidak berempati sedikitpun, karena aku pikir ya itulah resiko perjalanan. Aku saja juga sering berdiri di kereta tidak kebagian duduk. Padahal bayarnya sama.
Ya, dari tadi aku cuek saja.. walaupun banyak yg duduk di bawah. Ketika kaki ku disenggol (entah disenggol atau tersenggol) salah seorang dari mereka, kubalas menyenggol balik.
Ada yg nyenggol kepala, senggol balik kepalanya. puas banget dah pokoknya.
Mungkin sekarang saya mendapat pembalasan yg setimpal.

Pertolongan Tiba

Sesaat hatiku bersorak ketika ada kereta berenti lagi, kata penjual disebelahku itu kereta Senja Utama dari Jogja.
Aku berdiri, menengok ke kanan dan ke kiri, eh pintunya juga terkunci semua.
Aku berjalan ke sisi rel, mencoba melihat-lihat kalau ada pintu terbuka. Beberapa orang juga berjalan, pedagang asongan mulai memukul-mukul jendela dan menggebrak-gebrak pintu kereta.
Tetap saja tidak ada yg dibuka.
Aku terus berjalan sampai ujung stasiun. Petugas yg td aku tanyain sedang berdiri, kencing. Daerah sekitar situ bau pesing, gelap pula.
Setelah berdiri beberapa lama tetap saja tidak ada tanda2 pintu terbuka.
Aku pasrah, kemudian berjalan menuju bangku kembali.
sampe disitu, aku berpikir jangan-jangan ada pintu terbuka. Lagi, berdiri dan jalan ke tempat tadi..
Pak petugas yg tadi sudah selesai kencing, dia sekarang berada di tengah2 rel sana.
Masih tidak ada tanda-tanda buatku untuk bisa masuk ke dalam kereta. Siaran tinju masih berlangsung.
Pasrah, balik lagi, duduk. Mataku masih tajam mengawasi.
Tepat di depanku dua orang pedagang berusaha keras meminta agar dibukain pintu. aku ngliatain aja..
tiba-tiba pintu terbuka. Aku terkesiap, langsung setengah berlari menuju ke sana.
Satu orang pedagang lagi masuk. Aku terakhir.. agak lama nunggu tapi akhirnya masuk juga.
Alhamdulillah..ternyata ada jg orang yang baik membukakan pintu..
Setelah satu jam perjalanan plus berhenti2nya.. ditambah naik becak dan angkot sampe deh ke rumah, jam 2 dini hari.

Tuhan, Kau memberiku pelajaran yang berharga.

– Cirebon Maret 2008 –

 

5 Tanggapan to “Kesasar di Stasiun Ciledug”

  1. boed 26 Mei, 2008 pada 3:00 pm #

    kalo kata mas duma…ni aku lagi belajar tentang hal itu juga….:

    Menghadapi/ mersepon sesuatu itu dengan netral, secara netral
    Ya, netral, objektif, faktual, apa adanya. Jadi ketika ada kejadian yang positif maupun negatif (terutama yang negatif sih) kita meresponnya sesuai dengan kejadian yang kita alami.
    Kalo habis tabrakan..bukannya lantas yang keluar kamus kebun binatang, tap[i katakan saja aku habis nabrak, atau ditabrak siapa…

    Jadi kayak observasi kae lhooo, nyatakan apa adanya. Ndak ada interpretasi, ndak ada unsur emosi..pokoke NETRALLLLLLLLLL…

    Btw, jgn lupa kalo ada kejadian negatif gitu lagi…TERTAWAKANLAH DIRI SENDIRI TERLEBIH DULU (-drpd diketawain orang lain)…kyknya bakalan membantu biar ndak panic atau bingung…

    Selamat!!!! Anda mendapatkan sebuah pembelajaran baru.

  2. Handoko 26 Mei, 2008 pada 3:49 pm #

    wah.. pengalaman yang luar biasa…

    menurutq kuncinya : sabar dan selalu tetap tenang mengahapi musibah…, di “ujung sana” pasti ada jalan keluar.

  3. rifkahakim 27 Mei, 2008 pada 12:16 pm #

    Mas Boed:
    Kalo merespon harga BBM naik gimana ya kira-kira enaknya?!
    @$%#^&@%&&*! (ini versi yg ga netral, he…)

    aku menertawakan diri dulu ah…

  4. rifkahakim 27 Mei, 2008 pada 12:23 pm #

    ustadz Ndoko,
    jadi kira-kira bahasa ilmiahnya Innalloha ma’as shobiriin, innalloha ma ‘ana, atawa la tahzan?!

  5. wiwit 28 Mei, 2008 pada 9:05 am #

    nice story… ^_^

    kekuatan obervasi lingkungan fisiknya oke punya tu.
    masih inget ampe detail2 nya.
    tapi kayaknya masih lemah di kemampuan observasi lingkungan sosial.
    he he he…(betul gak??)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: