Antara Aku, Fahri, Aisha dan Maria (bujangan Only)

23 Mei

Semenjak secara tidak sengaja membaca bukunya (yg cetakan ke-10 tahun 2005), saya sudah yakin bahwa novel ini bakalan dibuat jadi film entah layar kaca atau layar lebar.
Akhir tahun 2007 kemarin saat digembar-gemborkan bakalan direlease, saya sudah bertekad untuk menonton filmnya di bioskop. Kebetulan waktu itu pas liburan ke Jogja.
Ternyata filmnya diundur lama banget. Karena kesibukan yang tidak tertahankan (cuiih!), agenda menyimak aksi Fahri, Aisha dan rekan-rekannya secara visual dan legal formal selalu kandas.
Hingga pada akhirnya saya nonton film versi bajakannya (yg masih ada keterangan ‘tape’ dan ‘waktunya’ itu lho mas Hanung), itu pun di kantor. (Bos, sori ya..!)
Terpaksa, dibela-belain mengorbankan waktu istirahat, pinjam headset tetangga, mata pedes karena musti berakomodasi maksimum selama 2 jam lebih. Mo gimana lagi, gambarnya burem bangets.

Ceritanya sangat biasa dan bisa ditebak endingnya. Kisahnya termasuk pasaran, heroik banget, tentang seseorang yg dicintai beberapa wanita (fyi, tentang yg satu ini Ayu Utami sinis banget komentarnya.. Besok deh saya kasih link ke source-nya). Pas banget lah untuk sinetron atau film.
Kekuatannya ada pada nilai-nilai yang ditawarkan oleh Habiburrahman El Shirazy yang menjadi background. Sangat berbeda dengan yang lain. Selama ini kita terbiasa dengan cerita berlatarbelakang keluarga kaya, rumah mewah, kehidupan jura-hura.
Kali ini latar belakangnya adalah mahasiswa miskin anak penjual tape, yang kuliah dengan beasiswa di universitas Al Azhar di Mesir sana.
Kegiatan dia sehari-hari juga agak diluar kebiasaan masyarakat umum seperti belajar mengaji (talaqqi) kepada ulama terkenal, menghafal quran, atau menulis.
Perilakunya juga sangat ‘melangit’ seperti tidak bersalaman dengan wanita, menjaga pandangan, tidak berpacaran.
Secara keseluruhan Kang Abik menawarkan novel dengan setting background nilai-nilai yang sangat Islami.

Lalu apa hubungannya dengan judul Aku, Fahri, Aisha dan Maria?
Membaca novel itu saya membayangkan diri saya adalah Fahri.
Fahri yang miskin tapi memiliki cita-cita yang besar untul lulus S3 di Al azhar. Fahri yang sholeh, rajin ibadah, pintar, cerdas dan mampu meyakinkan orang lain dengan kata-katanya. Fahri yang rajin menulis.
Fahri yang disukai teman-temannya, disukai tetangganya, berhati lembut dan mulia. Fahri yang menjaga prinsip-prinsip yang diyakini, menjaga pandangan, tidak bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya.
Bahkan saya terbawa gaya kang Abik bercerita dan benar-benar merasa diri saya adalah Fahri yang cakep dan diidolakan para gadis.
Ada gadis-gadis cantik dan baik di sekeliling saya seperti Nurul, Noura, serta akhirnya Aisha dan Maria.

Aisha adalah gadis kaya raya keturunan Turki-Jerman. Tetapi, dari ibunya dia juga memiliki darah Palestina yaitu neneknya.
Aisha, dalam bahasa Indonesia atau Arab mungkin Aisyah.

Maria adalah gadis asli Mesir putri keluarga Boutros, penganut kristen koptik. Ibunya adalah dokter spesialis anak.
Maria, dalam bahasa Al Quran adalah Maryam. Beliau ibunda dari nabiyullah Isa alaihissalam.  Maryam, siapa yang meragukan keshalihan wanita suci itu. Dari rahimnya lahir salah seorang utusan Allah.

Nama-nama ini adalah nama-nama wanita yang suci dan agung dalam islam.
Aisyah tidak lain tidak bukan adalah istri baginda Rasululloh. Beliau adalah wanita cerdas dan terbuka.
Dari beliau banyak sekali disampaikan hadits-hadits dari kehidupan pribadi dan rumah tangga Rosululloh. Dan tentunya Aisyah adalah salah satu wanita yang dijamin masuk surga.

Sejenak saya melambung selama menghayati kisah itu….
Ada ribuan pembaca yang mengaku demikian, terinspirasi oleh Fahri. Ketika membaca novel AAC merasa menjelma sebagai Fahri.
Dan ingin menjadi Fahri. Fahri yang di AAC itu.

Nih, Fahri Berpesan pada kalian..wahai para bujang lapuk!
Aah.., tapi Anda masih bujangan lapuk yang takut menikah. Padahal umur sudah lebih dari cukup, penghasilan sudah ada. Tampang juga tidak jelek-jelek amat. Tapi, tetap saja Anda belum menikah.
Mungkin ada banyak sebab, seperti belum menemukan yang sreg di hati. Atau anda takut mengungkapkan perasaan pada si dia.
Ada juga karena sibuk meninggikan kriteria. Anda merasa bingung memilih tapi tidak mau dipilih, karena yang memilih tidak sesuai dengan kriteria Anda.
Bisa juga Anda trauma membina hubungan dengan lawan jenis (atau Anda tidak tertarik, wah ini sih lebih parah.. )
Atau ketakutan anda lebih disebabkan oleh perasaan tidak mampu menjadi suami yang baik, suami yang bisa menjadi contoh bagi keluarga, karena ilmu yang seadanya dan ibadah yang tambal sulam.
Sampai kapan perasaan anda terus ini begini.
Anda mendambakan istri yang secantik Maria dan seshalih Aisha.
Tetapi bukankah Wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik, dan lelaki yang baik hanya utuk wanita yang baik.., begitu Fahri pernah mendengar dari seorang ustadz.
Jadi, sampai kapan Anda akan terus bertahan.

JADI kalian para bujang, Fahri kasih TIPS AGAR TIDAK TAKUT MENIKAH ya…
1. Niatkan pernikahan Anda adalah untuk beribadah kepada Allah semata.
2. Tanamkan tekad yang kuat untuk menikah, jgn setengah-setengah.

Tidak perlu Anda pasang target usia 25, 27, 30 atau berapapun harus menikah. Mengalirlah seperti biasa, tapi tanamkan tekad yang kuat untuk menikah.
Nasehat Kakek saya menikahlah segera selambat-lambatnya usia 25, karena setalah itu kamu akan malas menikah. Dulu saya pikir mana ada orang normal yang malas menikah.
Namun setelah saya mengalami, mendengar cerita teman-teman dan merenungkan ternyata memang niat menggebu-gebu ingin menikah tidak selamanya ada. Setelah masuk ke dalam fase dewasa yang disibukkan (oleh karir misalnya) kita akan terbuai dan terlupakan oleh aktivitas kita, pekerjaan.
3. Yakinlah bahwa nikah itu enak dan banyak2 lah mendengarkan cerita manfaat positif pernikahan dari orang yang sudah menikah. Contoh tuh Amrozi, udah hampir dieksekusi masih mau married.
4. Jauhilah film atau sinetron yang berisi pertengkaran rumah tangga
5. Tetapkan kriteria yang tinggi boleh, tapi sadarlah bahwa tidak ada wanita yang sempurna..jadi carilah yang mau sama situ, itu udah lebih dari cukup.
6. Perbaiki dirimu jika ingin mendapat wanita yang baik
7. Berdoalah kepada Allah dan bertawakkal lah
8. Jika jodoh tak kunjung ketemu, ke laut aja udah..!

Tolong diingat2 ya pesan Fahri ini. Jarang-jarang loh Fahri berpesan kesan di blog kaya gini. Ok, terakhir Fahri mau mohon maaf jika ada yg tidak berkenan, dan semoga bermanfaat.

Maret 08

10 Tanggapan to “Antara Aku, Fahri, Aisha dan Maria (bujangan Only)”

  1. riankurai 24 Mei, 2008 pada 11:37 am #

    jadi kepingin nih….
    tapi tip yang no.8 maksudnya ke laut cari jodoh ya….
    ketemu nyi roro dong….

  2. boed 26 Mei, 2008 pada 2:43 pm #

    Hmmmmm….mau metotivasi diri sendiri ini ya ceritanya, tapi bagus juga memberi masukan/inspirasi buat yang laen yang sedang berpikir tentang pernikahan.
    Nek kasusnya terbalik piye? Wis pingin nikah (tapi siap durung yo?) tapi sarana dan prasarana pendukungnya belom siap piye? Gak mungkin kan nikah modal dengkul.. harus bener2 siap fisik dan non fisik, materiil dan non materiil.
    Kalo kata orang dengan menikah rejeki akan datang sendiri juga rodo musykil juga, lah nek gak usaha yo podho wae to… Trus piye? (ini curhatan ketoke??)

    Anyway, omong2 ttg AAC, ini yang kamu, kupas dari sisi film-nya apa dari sisi novelnya? kan beda tuh…..banyak banget yang beda, dan yang paling kerasa tu di ending-nya yang poligami..soulnya beda anatar novel & filmnya. Piye?

  3. tony 26 Mei, 2008 pada 3:12 pm #

    aq tersindir…

    aq niat, aq mampu, tapi aq tetaplah orang jawa yg memiliki apa yg orang sebut sebagai ewuh-pakewuh, pun mengerti bila kau tahu.

    bismillah, istiqomah, insyaAllah amin.

  4. YoHang 07 26 Mei, 2008 pada 3:39 pm #

    duh.. penulisnya curhat… pengen segera menikah kaya-e… ^^
    Sukses Bro!!

  5. Handoko 26 Mei, 2008 pada 3:54 pm #

    An empty street,
    An empty house,
    A hole inside my heart,
    I’m all alone, the rooms are getting smaller

    I wonder how,
    I wonder why,
    I wonder where they are,
    The days we had,
    The songs we sang together(oh yeah).

    And ohhh.. my love,
    I’m holding on forever,
    Reaching for a love that seems so far,

    Chorus:
    So I say a little prayer,
    and hope my dreams will take me there,
    where the skies are blue to see you once again,
    My love,
    over seas from coast to coast,
    to find the place I love the most,
    where the fields are green to see you once again,
    my love.

    I try to read,
    i go to work,
    i’m laughing with my friends,
    but i can’t stop to keep myself from thinking(oh no)

    I wonder how
    I wonder why
    I wonder where they are
    the days we had, the songs we sang together(oh yeah)

    And ohhh.. my love
    I’m holding on forever, reaching for a love that seems so far

    Chorus

    To hold you in my arms,
    To promise you my love,
    To tell you from a far
    You’re all I’m thinking of

    Reaching for the love that seems so far

    Chorus to end

    My Love, Coast to coast
    -Westlife-

  6. rifkahakim 27 Mei, 2008 pada 12:54 pm #

    #Tony,
    sama dong, yg nulis aja kesindir…

    #YoHang 07
    aq tersindir…
    bismillah, istiqomah, insyaAllah amin

    #Handoko
    Segitunya. Mas Ndoko bisa romantic juga ya, pasti karena banyak bergaul ama saya, hahahaha…

  7. rifkahakim 27 Mei, 2008 pada 12:54 pm #

    #Riankurai,
    ke laut bukan ketemu nyi roro, tp ketemu sama mas Fahri.
    Ntar pasti mas Fahrinya bilang, “Silahkan Anda ulang lagi dari tips 1 s/d 7!” hehehe…

    #Boed,
    jangan-jangan kasus pribadi ini ya pak Psikolog?
    tapi setahu saya sih gak ada yg mati gara-gara married kok pak!
    yg comment terakhir dibahas di postingan sy selanjutnya aja ya, ok.

  8. wiwit 28 Mei, 2008 pada 9:54 am #

    wah hebat…sudah bisa nulis.
    brarti tinggal praktek nya aja ya pak??!!

  9. Rita 28 Mei, 2008 pada 11:27 am #

    waduh, ini aku salah masuk y,
    buat bujang lapuk
    terlanjur baca pak…

    walah2, kena syndrom AAC jg to???
    knp bnyak ikhwan kena syndrom AAC y??

    yo wis, gek ndang wae pak, kutunggu undangannya, reuni SM@RT ^_^ (lho…)

    ra mutu banget yo commentnya?? gpp lah

  10. rifkahakim 30 Mei, 2008 pada 6:48 pm #

    # Wiwit,
    No comment, he…

    # Rita,
    Kita sih gak kena syndrom AAC mbak, hanya ikut2an nebeng kepopuleran nya aja. Siapa tau bisa diajak casting KCB hihihi…
    Gak tau ya, aq juga bingung. btw, reuinian pas married, ide bagus tuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: