Arsip | cerita motivasi RSS feed for this section

SABAR DAN NIKMATILAH PROSESNYA!

21 Feb

“Sabar saja, dan nikmati prosesnya!”

Entah kenapa saya jadi suka mengucapkan dan mendengar kalimat tersebut keluar dari kedua belah bibir saya. Pernah saya sampaikan kata-kata tersebut untuk menasihati sahabat dekat saya, dan akhirnya pernah pula kata-kata tersebut dikembalikan kepada saya oleh orang yang sama. Dan sejak itulah saya secara sadar menjadi suka memperdengarkannya sendiri.

Memang kalimat ini tergolong “sakti”. Relevan sepanjang masa dan pas bagi siapa saja. Entah terinspirasi dari mana saya bisa menggabungkan kata-kata tersebut (jangan-jangan saya dapatkan dari membaca buku, ataukah..seseorang pernah mengucapkannya, saya lupa).

Ada kata SABAR, ada PROSES dan ada NIKMAT. Setelah saya renungkan, bahkan dalam konteks pibadi saja, tidak pernah ada orang yang (lagi…)

17:59

26 Apr

senja

 

 

 

 

 

 

 

Belajar ku menghayati mengeja meraba arti hakiki,

saat terpana kagumi lantunan firman-Mu hiasi bumi.

Tertunduk takjub mengharu saksikan betapa agung cipta-Mu

Ijinkan ku hias jalan-Mu Allah bimbing dan kuatkan aku

 

Dan tatihlah kumeratap menapaki dunia,

menyibak makna tanya yang tersirat.

Dan tatihlah hamba-Mu coba meraih hikmah

Kepak sayap yang kehilangan arah 

 

Tertatih ku terpa gelombang betapa hati mudah terguncang

Biarkan ku hias jalan-Mu Allah berikan ku keteduhan

 

(qb)

 

 

Qurban Terbaik (Seri Cerita Qurban – 2)

25 Nov

x-trail Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.
“Berapa harga kambing yang itu pak?” ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.
“Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang” kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.
“Tidak bisa turun pak?” kataku mencoba bernegosiasi.
“Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal” si pedagang bertahan.
“Satu juta lima ratus ribu ya?” aku melakukan penawaran pertama
“Maaf pak, masih jauh.” ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.
“Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?” kataku
“Masih belum nutup pak” ujarnya tetap cuek
“Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?” ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.
“Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput, ” kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.
“Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?” kataku kemudian
“Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah” katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian “korpri” yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.
“Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?” katanya kagum.
“Dua juta tidak kurang tidak lebih kek.” kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.
“Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?” kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan ” bisa di tawar-kan ya mas?” lanjutnya mencoba negosiasi juga.
“Cari kambing yang lain aja kek.” si pedagang terlihat semakin malas meladeni.
“Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini) Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas. ” katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.
“Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?” lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.
“Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah” si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
“Ora ono ongkos kirime tho…?” (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih
“Dua juta sudah termasuk ongkos kirim” si pedagang yang cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek ” mau di antar ke mana mbah?” (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)
“Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)” kata si kakek sambil menerimanya ” tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu). “

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan diangkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.
Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.

Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan. Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super. Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus.
Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.
Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu
(Cikini, 12-11-07)

Oleh Jojo Wahyudi – Era Muslim 22 Nov 07 10:29 wib.

Kambing Qurban Yu Timah (Seri Cerita Qurban -1)

25 Nov

Kondisi ekonomi yang sedang tidak bagus belakangan berimbas mulai pada semua kalangan. Media massa gencar menginformasikan ancaman PHK yang membayangi jutaan pekerja. Ini memaksa sebagian besar orang untuk melakukan sejumlah langkah efisiensi pengeluaran. Termasuk mungkin ada sebagian kita yang melemah motivasinya untuk berkurban (yg sebentar lagi) dan bahkan merevisi niat untuk berkurban tahun ini menjadi tahun depan. Sah-sah saja saya pikir, karena perintah itu diberikan hanya kepada mereka yang telah mampu.

Just wanna share a nice story that I’ve just read. Mungkin bisa menggugah kembali api semangat yang hampir padam. Agak lama memang, tapi bukankah kisah yg menggugah seperti ini tidak pernah usang. Saya kutip mentah-mentah dari sumbernya.

______________________________________________________________________________________________

BELUM HAJI SUDAH MABRUR

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup.
Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

(Ahmad Tohari )
Sumber: Republika, Senin, 18 Desember 2006

Ramadhan Datang! Jika Kesempatan Itu (masih) Ada..

28 Agu

Pagi-pagi sebelum memulai aktivitas rutin yang tak ada habis-habis, seperti biasa, saya sempatkan dulu menengok situs berita detik.

 

Beberapa saat melahap berita hangat hari itu, dari berita politik sampai olahraga. Scrolling down, tak sengaja di bagian pojok kanan bawah ada image ustadz Hidayat. Aah, ternyata ada juga blog beliau. Langsung saya klik, dan jadi saya bersilaturahim dengan beliau dalam dunia maya. Rasanya memang sudah lama sekali tidak berjumpa langsung, sejak saya meninggalkan Jogja.

Ada satu tulisan beliau yang cukup menarik perhatian saya, taujih tentang Ramadhan yang senin depan sudah mengunjungi kita. http://hidayatnurwahid.blogdetik.com/2008/08/23/ramadhan-bulan-solusi/

Ramadhan tamu agung, bulan suci yang penuh berkah, yang seharusnya disambut dengan penuh suka cita oleh kita. Momentum yang seharusnya bisa menjadi solusi bagi segala permasalahan, pribadi bahkan negara.

Sejanak sempat saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya lebih keras. Tersadar, rasanya saya menyambut ramadhan ini dengan biasa-biasa saja. Tidak terasa hal yang spesial, seperti dulu menyambut Ramadhan dengan penuh semangat. Jangankan seminggu, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya telah tersusun berbagai program dan target pribadi yang harus dicapai selama satu bulan.

Nah, sekarang ke mana semangat itu. Gairah itu, ghiroh itu hilang ke mana? Ya Tuhan. Jangan-jangan saya termasuk sebagian orang yang tidak beruntung di bulan Ramadhan ini, karena tiada merasakan sukacita menyambutnya. Nau’udzubillahi min dzalik.

Ya Robbana, jika kesempatan itu masih ada.. musnahkan kesombongan, kenifakan, kekufuran yang terlanjur bersemayam dalam tubuh ini. Jika kesempatan itu masih ada.. pertemukan saya dengan bulan suci-Mu, bahagiakan saya menyambut tamu agung-Mu, dan karuniakan berkah-Mu di bulan itu.

(RH – tiga hari sebelum Ramadhan)

Antara Aku, Fahri, Aisha dan Maria (bujangan Only)

23 Mei

Semenjak secara tidak sengaja membaca bukunya (yg cetakan ke-10 tahun 2005), saya sudah yakin bahwa novel ini bakalan dibuat jadi film entah layar kaca atau layar lebar.
Akhir tahun 2007 kemarin saat digembar-gemborkan bakalan direlease, saya sudah bertekad untuk menonton filmnya di bioskop. Kebetulan waktu itu pas liburan ke Jogja.
Ternyata filmnya diundur lama banget. Karena kesibukan yang tidak tertahankan (cuiih!), agenda menyimak aksi Fahri, Aisha dan rekan-rekannya secara visual dan legal formal selalu kandas.
Hingga pada akhirnya saya nonton film versi bajakannya (yg masih ada keterangan ‘tape’ dan ‘waktunya’ itu lho mas Hanung), itu pun di kantor. (Bos, sori ya..!)
Terpaksa, dibela-belain mengorbankan waktu istirahat, pinjam headset tetangga, mata pedes karena musti berakomodasi maksimum selama 2 jam lebih. Mo gimana lagi, gambarnya burem bangets.

Ceritanya sangat biasa dan bisa ditebak endingnya. Kisahnya termasuk pasaran, heroik banget, tentang seseorang yg dicintai beberapa wanita (fyi, tentang yg satu ini Ayu Utami sinis banget komentarnya.. Besok deh saya kasih link ke source-nya). Pas banget lah untuk sinetron atau film.
Kekuatannya ada pada nilai-nilai yang ditawarkan oleh Habiburrahman El Shirazy yang menjadi background. Sangat berbeda dengan yang lain. Selama ini kita terbiasa dengan cerita berlatarbelakang keluarga kaya, rumah mewah, kehidupan jura-hura.
Kali ini latar belakangnya adalah mahasiswa miskin anak penjual tape, yang kuliah dengan beasiswa di universitas Al Azhar di Mesir sana.
Kegiatan dia sehari-hari juga agak diluar kebiasaan masyarakat umum seperti belajar mengaji (talaqqi) kepada ulama terkenal, menghafal quran, atau menulis.
Perilakunya juga sangat ‘melangit’ seperti tidak bersalaman dengan wanita, menjaga pandangan, tidak berpacaran.
Secara keseluruhan Kang Abik menawarkan novel dengan setting background nilai-nilai yang sangat Islami.

Lalu apa hubungannya dengan judul Aku, Fahri, Aisha dan Maria?
Membaca novel itu saya membayangkan diri saya adalah Fahri.
Fahri yang miskin tapi memiliki cita-cita yang besar untul lulus S3 di Al azhar. Fahri yang sholeh, rajin ibadah, pintar, cerdas dan mampu meyakinkan orang lain dengan kata-katanya. Fahri yang rajin menulis.
Fahri yang disukai teman-temannya, disukai tetangganya, berhati lembut dan mulia. Fahri yang menjaga prinsip-prinsip yang diyakini, menjaga pandangan, tidak bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya.
Bahkan saya terbawa gaya kang Abik bercerita dan benar-benar merasa diri saya adalah Fahri yang cakep dan diidolakan para gadis.
Ada gadis-gadis cantik dan baik di sekeliling saya seperti Nurul, Noura, serta akhirnya Aisha dan Maria.

Aisha adalah gadis kaya raya keturunan Turki-Jerman. Tetapi, dari ibunya dia juga memiliki darah Palestina yaitu neneknya.
Aisha, dalam bahasa Indonesia atau Arab mungkin Aisyah.

Maria adalah gadis asli Mesir putri keluarga Boutros, penganut kristen koptik. Ibunya adalah dokter spesialis anak.
Maria, dalam bahasa Al Quran adalah Maryam. Beliau ibunda dari nabiyullah Isa alaihissalam.  Maryam, siapa yang meragukan keshalihan wanita suci itu. Dari rahimnya lahir salah seorang utusan Allah.

Nama-nama ini adalah nama-nama wanita yang suci dan agung dalam islam.
Aisyah tidak lain tidak bukan adalah istri baginda Rasululloh. Beliau adalah wanita cerdas dan terbuka.
Dari beliau banyak sekali disampaikan hadits-hadits dari kehidupan pribadi dan rumah tangga Rosululloh. Dan tentunya Aisyah adalah salah satu wanita yang dijamin masuk surga.

Sejenak saya melambung selama menghayati kisah itu….
Ada ribuan pembaca yang mengaku demikian, terinspirasi oleh Fahri. Ketika membaca novel AAC merasa menjelma sebagai Fahri.
Dan ingin menjadi Fahri. Fahri yang di AAC itu.

Nih, Fahri Berpesan pada kalian..wahai para bujang lapuk!
Aah.., tapi Anda masih bujangan lapuk yang takut menikah. Padahal umur sudah lebih dari cukup, penghasilan sudah ada. Tampang juga tidak jelek-jelek amat. Tapi, tetap saja Anda belum menikah.
Mungkin ada banyak sebab, seperti belum menemukan yang sreg di hati. Atau anda takut mengungkapkan perasaan pada si dia.
Ada juga karena sibuk meninggikan kriteria. Anda merasa bingung memilih tapi tidak mau dipilih, karena yang memilih tidak sesuai dengan kriteria Anda.
Bisa juga Anda trauma membina hubungan dengan lawan jenis (atau Anda tidak tertarik, wah ini sih lebih parah.. )
Atau ketakutan anda lebih disebabkan oleh perasaan tidak mampu menjadi suami yang baik, suami yang bisa menjadi contoh bagi keluarga, karena ilmu yang seadanya dan ibadah yang tambal sulam.
Sampai kapan perasaan anda terus ini begini.
Anda mendambakan istri yang secantik Maria dan seshalih Aisha.
Tetapi bukankah Wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik, dan lelaki yang baik hanya utuk wanita yang baik.., begitu Fahri pernah mendengar dari seorang ustadz.
Jadi, sampai kapan Anda akan terus bertahan.

JADI kalian para bujang, Fahri kasih TIPS AGAR TIDAK TAKUT MENIKAH ya…
1. Niatkan pernikahan Anda adalah untuk beribadah kepada Allah semata.
2. Tanamkan tekad yang kuat untuk menikah, jgn setengah-setengah.

Tidak perlu Anda pasang target usia 25, 27, 30 atau berapapun harus menikah. Mengalirlah seperti biasa, tapi tanamkan tekad yang kuat untuk menikah.
Nasehat Kakek saya menikahlah segera selambat-lambatnya usia 25, karena setalah itu kamu akan malas menikah. Dulu saya pikir mana ada orang normal yang malas menikah.
Namun setelah saya mengalami, mendengar cerita teman-teman dan merenungkan ternyata memang niat menggebu-gebu ingin menikah tidak selamanya ada. Setelah masuk ke dalam fase dewasa yang disibukkan (oleh karir misalnya) kita akan terbuai dan terlupakan oleh aktivitas kita, pekerjaan.
3. Yakinlah bahwa nikah itu enak dan banyak2 lah mendengarkan cerita manfaat positif pernikahan dari orang yang sudah menikah. Contoh tuh Amrozi, udah hampir dieksekusi masih mau married.
4. Jauhilah film atau sinetron yang berisi pertengkaran rumah tangga
5. Tetapkan kriteria yang tinggi boleh, tapi sadarlah bahwa tidak ada wanita yang sempurna..jadi carilah yang mau sama situ, itu udah lebih dari cukup.
6. Perbaiki dirimu jika ingin mendapat wanita yang baik
7. Berdoalah kepada Allah dan bertawakkal lah
8. Jika jodoh tak kunjung ketemu, ke laut aja udah..!

Tolong diingat2 ya pesan Fahri ini. Jarang-jarang loh Fahri berpesan kesan di blog kaya gini. Ok, terakhir Fahri mau mohon maaf jika ada yg tidak berkenan, dan semoga bermanfaat.

Maret 08

lembar motivasi

17 Des

me my self.. Sahabatku, aku ingin berbagi..

Beranilah menetap ke depan..
jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, namun jangan pula lihat masa
depan dengan ketakutan,
Tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran.

jangan takut untuk mengambil satu langkah besar bila memang itu
diperlukan, kita takan bisa meloncati jurang hanya dengan lompatan kecil.

percayalah pada keajaiban,
tapi jangan sekalipun pernah tergantung semata padanya

Karena kau tau kekasihku, kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi
bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
(teruntuk diriku yang sering lelah dan lemah, agar kembali gagah)