Pagi-pagi sebelum memulai aktivitas rutin yang tak ada habis-habis, seperti biasa, saya sempatkan dulu menengok situs berita detik.
Beberapa saat melahap berita hangat hari itu, dari berita politik sampai olahraga. Scrolling down, tak sengaja di bagian pojok kanan bawah ada image ustadz Hidayat. Aah, ternyata ada juga blog beliau. Langsung saya klik, dan jadi saya bersilaturahim dengan beliau dalam dunia maya. Rasanya memang sudah lama sekali tidak berjumpa langsung, sejak saya meninggalkan Jogja.
Ada satu tulisan beliau yang cukup menarik perhatian saya, taujih tentang Ramadhan yang senin depan sudah mengunjungi kita. http://hidayatnurwahid.blogdetik.com/2008/08/23/ramadhan-bulan-solusi/
Ramadhan tamu agung, bulan suci yang penuh berkah, yang seharusnya disambut dengan penuh suka cita oleh kita. Momentum yang seharusnya bisa menjadi solusi bagi segala permasalahan, pribadi bahkan negara.
Sejanak sempat saya menarik nafas panjang dan menghembuskannya lebih keras. Tersadar, rasanya saya menyambut ramadhan ini dengan biasa-biasa saja. Tidak terasa hal yang spesial, seperti dulu menyambut Ramadhan dengan penuh semangat. Jangankan seminggu, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya telah tersusun berbagai program dan target pribadi yang harus dicapai selama satu bulan.
Nah, sekarang ke mana semangat itu. Gairah itu, ghiroh itu hilang ke mana? Ya Tuhan. Jangan-jangan saya termasuk sebagian orang yang tidak beruntung di bulan Ramadhan ini, karena tiada merasakan sukacita menyambutnya. Nau’udzubillahi min dzalik.
Ya Robbana, jika kesempatan itu masih ada.. musnahkan kesombongan, kenifakan, kekufuran yang terlanjur bersemayam dalam tubuh ini. Jika kesempatan itu masih ada.. pertemukan saya dengan bulan suci-Mu, bahagiakan saya menyambut tamu agung-Mu, dan karuniakan berkah-Mu di bulan itu.
(RH – tiga hari sebelum Ramadhan)

